UU No.23 tahun 2006 & PP No.37 tahun 2007

KEROKHANIAN SAPTA DARMA - SCB. Cerme Gresik - JATIM ( UU No.23 tahun 2006 & PP No.37 tahun 2007 )

Minggu, 14 November 2010

Apasih SAPTA DARMA itu ?

Banyak yang masih belum tahu tentang sebuah ajaran kerokhanian SAPTA DARMA, dan banyak jg pertanyaan2 yang terlontar dari saudara2ku di Indonesia dari berbagai Agama…Apa yang di maksud SAPTA DARMA. Mereka hanya dapat mengartikan bahwa SAPTA DARMA adalah Tujuh kewajiban Suci….tapi apa sesungguhnya SAPTA DARMA mereka belum tahu betul. Di sini akan saya postingkan tulisan dari sobat/dulur ttg pengenalan dasar SAPTA DARMA.

SAPTA DARMA

Oleh : Muhammad Mahbub R

Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang telah dicapai oleh manusia modern dewasa ini sungguh sangat mencengangkan, khususnya pemenuhan manusia akan kebutuhan jasmaniahnya (dunia materi). Sedangkan kemajuan spritual ataupun kesempurnaan jiwa dan rohani tidaklah seimbang. Padahal rohani dan jiwa adalah motor penggerak daripada segala tingkah laku dan perbuatan yang tampak pada tindakan sehari-hari. Ketidak seimbangan tersebut membuat manusia menuju pada kehancuran.

Suatu kenyataan bahwa kepercayaan (kebatinan, kejiwaan dan kerohanian) bagi bangsa Indonesia telah merupakan suatu naluri dan dapat merupakan kebudayaan kita yang akhir-akhir ini dikalangan generasi muda kabur dan kurang mendapat perhatian, yang sebenarnya dengan jalan inilah manusia dapat memahami “rasa” daripada kehidupan itu sendiri.

Kerohanian Sapta Darma adalah suatu ajaran murni wahyu yang diterima oleh Bapak Panuntun Agung Sri Gutama yang nama aslinya bernama Bapak Hardjosapuro dari desa Pare, Kediri Propinsi Jawa Timur. Sapta Darma diturunkan untuk mengembalikan akhlak manusia dan memberikan pandangan kepada sekalian umat menuju kebudiluhuran. Menurut pendapat Dr. Suwarno imam S, Sapta Darma mempunyai tujuan untuk memayu hayuning bahagianya buana artinya membimbing hidup manusia untuk dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akherat ( mencapai kebahagiaan hidup jasmani dan rohani ).

Biografi

Aliran Kerohanian Sapta Darma adalah suatu ajaran murni wahyu yang diterima oleh Bapak Panuntun Agung Sri Gutama, yang nama aslinya adalah Bapak Hardjosapuro. Ia dilahirkan di desa sanding pare, Kediri Propinsi Jawa Timur pada tahun 1916 M.

Ajaran sapta darma pertama kali “diwahyukan” kepada Hardjosapuro pada tanggal 27 Desember 1952. ketika itu jam satu malam, tiba-tiba seluruh tubuh Hardjosapuro digerakkan untuk melakukan sujud. Gerakan sujud yang datang tiba-tiba, hal itu berlangsung hingga jam 5 pagi. Keeseokan harinya Hardjosapuro datang menemui teman-temannya untuk menceritakan kejadian tersebut. Sesampai dirumah temannya itu tiba-tiba ia bersama temannya digerakkan seluruh tubuhnya untuk melakukan sujud seperti kejadian sebelumnya. Kejadian seperti ini terulang terus setiap Hardjosapuro mendatangi teman-temannya yang lain, sampai ada enam orang temannya yang mengalami kejadian serupa.

Selanjutnya Hardjosapuro mendapatkan “wahyu” kembali untuk melakukan apa yang disebut racut, yaitu mengalami mati di dalam hidup. Dan diceritakan bahwasannya roh Hardjosapuro meninggalkan badan (wadag) naik keatas (alam lain). dan disana Hardjosapuro masuk kesebuah masjid yang besar dan indah disana ia melakukan sujud di tempat pengimaman, sesudah itu ia didatangi oleh orang yang bersinar-sinar (diangkat dan diayun-ayunkan) kemudian dibawa ke sebuah sumur yang airnya penuh. Sumur itu disebut sumur Gumuling dan sumur jolorundo. Setelah itu Hardjosapuro mendapatkan dua keris yang diberi nama Nogososro dan Bendosugodo, kemudian ia disuruh kembali dan akhirnya terbangun, hidup kembali. Kejadian ini dicatat dan ditetapkan terjadi pada tanggal 13 februari 1953, karena hal ini terjadi pada saat Hardjosapuro dan teman-temannya berkumpul di rumahnya.

Semenjak ia mendapatkan wahyu yang pertama, sudah mendapatkan gelar Resi Brahmono dari Tuhan, kemudian pada tanggal 27 desember 1955 gelar itu ditingkatkan lagi Sri gutomo, dan di pertinggi lagi menjadi Panuntun agung, sehingga gelar itu menjadi Panuntun agung Sri Gutomo. Akhirnya pada tanggal 16 deswember 1964 Hardjosapuro, sang Panuntun Agung meninggal dunia; jenazahnya kemudian dibakar dan dilarung (diceburkan) ke laut di dekat Surabaya. Selanjutnya pusat pimpinan sapta darma dipindahkan ke yogyakarta, bertempat di surokarsan bergandengan dengan candi agung yang bernama candi sapta rengga, setelah Panuntun agung Sri Gutomo meninggal dunia kepemimpinan digantikan oleh Panuntun Agung Sri Pawenang sebagai pimpinan selanjutnya sapta darma, yakni ia seorang wanita bernama Sri suwartini, salah satu lulusan Universitas Gajah Mada. Semenjak kepemimpinan sapta darma dipimpin oleh Sri Pawenang, perkembangan sapta darma semakin meningkat.

Ajaran

Ajaran sapta darma terbentuk setelah diturunkan wahyu dalam tahap beberapa kali, adapun wahyu-wahyu yang diterima adalah sebagai berikut :

1. Wahyu Sujud adalah memuat ajaran tentang tata cara menyembah kepada Allah Hyang Maha Kuasa.

Adapun cara melakukan sujud adalah sebagai berikut :

Sikap duduk, tegak menghadap timur. Bagi pria duduk bersila, kaki kanan didepan yang kiri. Bagi wanita bertimpuh. Tangannya ber sedakep, yang kanan didepan yang kiri. Selanjutnya menentramkan badan, mata melihat ke lantai ke satu titik di depannya kira-kira satu meter. Kepala dan punggung segaris lurus.

Setelah merasa tentram kemudian mengucapkan dalam batin “Allha hyang Mahaagung, Allah Hyang Maharahim, Allah Hyang Mahaadil.” Lebih lanjut, bila telah tenang dan tentram, terasa ada getaran di dalam tubuh yang merambat berjalan dari bawah ke atas. Kemudian ujung lidah terasa dingin kena angin (bahasa jawa pating trecep).

Selanjutnya rasa merambat ke atas ke kepala karenanya mata lalu terpejam dengan semdirinya. Bila kepala sudah terasa berat, tanda bahwa rasa telah berkumpul di kepala. Hal ini menjadikan badan tergoyang dengan sendirinya. Kemudian mulai merasakan jalannya air sari yang ada di tulang ekor. Jalannya air sari merambat halus sekali, naik seraya mendorong tubuh membungkuk ke depan. Membungkukknya badan diikuti terus, sampai dahi menyentuh ke lantai, lalu di dalam batin mengucapkan, “Hyang Mahasuci sujud Hyang MahaKuasa”, sampai tiga kali.

Selesai mengucapkan, kepala diangkat perlahan-lahan, hingga badan dalam sikap duduk tegak lagi seperti semula. Kemudian mengulang lagi merasakan seperti tersebut diatas, sehingga dahi menyentuh lantai yang kedua kalinya, lalu di dalam batin mengucapkan, “kesalahan Hyang Mahasuci mohon ampun kepada hyang MahaKuasa”, sampai tiga kali

Dengan perlahan-lahan kepala diangkat duduk tegak kembali, lalu mengulang merasakan lagi sampai dahi menyentuh lantai yang ketiga kalinya. Kemudian dalam batin mengucapkan, “Hyang mahasuci bertobat kepada Hyang MahaKuasa” sampai tiga kali. Akhirnya duduk tegak kembali, masih tetap dalam sikap tenang untuk beberapa menit, kemudian sujud selesai.

Sujud dengan tiga kali membungkuk tersebut di atas disebut “sujud dasar” atau “sujud wajib”. Sujud ini harus dilakukan sedikit-dikitnya stu kali dalam dua puluh empat jam.

2. Wahyu Racut, maksudnya memisahkan rasa perasa (angan-angan, pikiran). Maka ruh manusia berangkat meninggalkan tubuh pergi menghadap Hyang Mahakuasa dan kemudian setelah menghadap, ia diperintahkan untuk kembali memasuki tubuhnya. Keadaan ini mengisyaratkan “mati sajroning urip”, mati dalam hidup. Yang mati adalah pikiran, angan-angan, kemauan, pokoknya dibekukan segala daya otak, sedangkan ruhnya melayang hidup menemui Allah. Dengan tujuan dapat mengetahui selagi masih hidup di dunia, bahwa nanti setelah mati ia akan bersama-sama dengan Hyang Mahakuasa.

Dengan artian yang mudah bahwasannya ajaran ini memuat perihal, tentang tata cara rohani manusia untuk mengetahui alam langgeng atau melatih sowan/menghadap Hyang Maha Kuasa.

3. Wahyu Simbol Pribadi Manusia menjelaskan tentang asal mula, sifat watak dan tabiat manusia itu sendiri, serta bagaimana manusia harus mengendalikan nafsu agar dapat mencapai keluhuran budi.

Adapun simbol-simbol tersebut dipatrikan dalam sebuah gambar kombinasi segi empat, segi tiga, lingkaran-lingkaran dan vignette semar, serta memakai warna-warni yang mengandung arti simbolik.

4. Wewarah Tujuh , artinya tujuh ajaran (petunjuk) /sapta darma. Yang kemudian diadopsi menjadi nama dari pada aliran ini, yaitu Sapta Darma, yang mengandung arti tujuh kewajiban (kebajikan). Adapun Tujuh Kewajiban itu terperinci sebagai berikut :

1) Setia dan tawakal pada adanya pancasila Allah (Maha agung, maharahim, Mahaadil, Mahawawesa, dan Mahalanggeng).

2) Dengan jujur suci hati, harus setia menjalankan perundang- undangan negaranya.

3) Turut serta menyisingkan lengan baju, menegakkan berdirinya nusa dan bangsanya.

4) Menolong kepada siapa saja bila perlu, tanpa mengharapkan sesuatu, melainkan berdasarkan rasa cinta dan kasih.

5) Berani hidup berdasarkan kepercayaan atas kekuatan diri sendiri.

6) Sikapnya dalam hidup bermasyarakat, kekeluargaan, harus susila beserta halusnya budi pekerti, selalu merupakan petunjuk jalan yang mengandung jasa serta memuaskan.

7) Yakin bahwa keadaan dunia itu tiada abadi, melainkan selalu berubah-ubah (anyakra manggilingan).

Wewarah Tujuh merupakan kewajiban hidup manusia di dunia sekaligus merupakan pandangan hidup dan pedoman hidup manusia. Dalam wewarah tujuh tersebut tersirat kewajiban hidup manusia dalam hubungannya dengan Allah Hyang Maha Kuasa, Pemerintah dan Negara, nusa dan bangsa , sesama umat makluk sosial, pribadinya sebagai makluk individu, masyarakat sekitar dan lingkungan hidupnya serta meyakini bahwa keadaan dunia tiada abadi selalu berubah-ubah (Anyakra Manggilingan).

5. Wahyu Sesanti yang cukup jelas dan gampang dimengerti oleh siapapun, membuktikan suatu etika/ciri khas Sapta Darma yang menitik beratkan kepada warganya harus membahagiakan orang lain (tansah agawe pepadang lan maraning lian).

Konsep Tuhan, Manusia dan Mistik.

Ajaran sapta darma menjelaskan tentang Tuhan sangatlah sederhana, sebagaimana dijelaskan oleh Sri Pawenang bahwa Tuhan juga disebut Allah. Sesungguhnya Allah itu Ada dan Tunggal (Esa). Allah memiliki lima sila yang mutlak, yaitu: Mahaagung, Maharahim, Mahaadil, Mahawawesa, dan Mahalanggeng.

Dilihat dari perspektif paradigma sinkretisme, ajaran keTuhanan seperti ini menyerupau jaran keTuhanan di dalam agama islam. Menurut ajaran ini, di dalam badan jasmani tersebar sinar cahaya Allah yang disebut rasa atau roh. Roh ini juga disebut roh suci yang dapat berhubungan dengan Allah, bahakan dapat bersatu dengan Allah. Dengan demikian ajaran sapta darma tentang tuhan dapat disebut “monisme panteistik”.

Ajaran tentang manusia dalam sapta darma digambarkan dalam bentuk symbol (lambang), yaitu simbol sapta darma (simbol pribadi manusia). Dan dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Bahwa asal terjadinya manusia dari sinar sahaya Allah yang disebut hyang Mahasuci (roh suci) dan sari bumi yang terdiri dari sari sperma bapak dan sari telur ibu.

2. Bahwa pada badan jasmani manusia terdapat sembilan lubang udara, yakni dua di mata, dua di telinga, dua di hidung, satu di mulut, satu di dubur, dan satu di kemaluan.

3. Bahwa hidup manusia senantiasa berubah ubah, seperti roda berputar. Karena manusia setiap harinya makan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan dari binatang yang mengakibatkan timbulkan getaran yang jahat.

4. Badan jasmani manusia dilengkapi dengan empat nafsu, yaitu lawwamah, amarah, suwiyah, dan mutmainah.

5. Bahwa gambar semar merupakan inti di dalam symbol sapta darma, yakni sebagai symbol budi luhur dan NurCahya atau Hyang Mahasuci yang memiliki kemampuan untuk berhubungan langsung dengan Allah Yang Mahakuasa.

6. Bagian rohani manusia di samping Hyang Mahasuci, juga dilengkapi dengan sebelas saudara, sehingga semuanya menjadi 12 saudara, yaitu: (1) Hyang Mahasuci, (2) Premana, (3) Jatingarang, (4) Gandarwaraja, (5

) Brama, (6) Bayu, (7) Endra, (8) Mayangkara, (9) Suksma Rasa, (10) SuksmaKencana, (11) Nagatahun, (12) Bagindakilir (Nur Rasa).

7. Hidup manusia menurut ajaran ini dipengaruhi oleh tiga getaran, yaitu getaran dari tumbuh-tumbuhan, getaran dari binatang, dan getaran dari cahaya Allah. Getaran dari tumbuh-tumbuhan dan binatang mempunyai pengaruh yang buruk terhadap kehidupan manusia, karenanya manusia harus teliti dalam mengkonsumsi makanan, agar getaran-getaran itu hanya dikuasai oleh cahaya Allah, yaitu getara-getaran yang sempurna.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasannya asal manusia terdiri dari, yaitu: Sinar cahaya Allah, air sari dari bapak dan air sari dari ibu. Air sari tersebut berasal dari sari bumi. Yang oleh ajaran ini disebut juga “Tritunggal”.

Konsep Mistik menurut sapta darma masih berhubungan dengan penjelasan di atas, dengan artian. bahwasannya Getaran sinar cahaya Allah itu kemudian bersatu padu dengan getaran air sari dan berjalan secara halus merambat ke seluruh tubuh. Bila telah memusat di ubun-ubun akan berwujud nur putih, akhirnya naik bersatu menghadap hyang Mahakuasa untuk menerima petunjuk berupa isyarat.

Persatuan antara Hyang Mahasuci (nur putih) dengan Hyang Mahakuasa dapat dicapai dengan jalan sujud, yaitu sujud yang dilakukan dengan penuh kesungguhan. Karenanya, sujud itu tidak boleh dilakukan dengan tergesa-gesa memburu lekas selesai. Yang mana apabila melakukan sujud itu dengan kesungguhan akan menuntun jalannya air sari dari sinar cahaya Allah, yang meliputi seluruh tubuh hingga sampai ke sel-selnya.

Persatuan yang dilakukan, bukan saja dengan jalan sujud akan tetapi disamping itu dapat dilakukan dengan cara Racut. Racut berarti memisahkan rasa dari perasaan, dengan tujuan menyatukan roh suci dengan sinar sentral. Jadi racut dapat digunakan untuk menghadap Hyang Mahasuci ke hadirat Hyang Mahakuasa. Jadi selagi manusia masih hidup di dunia ini, ia dapat menyaksikan tempat dimana kelak bila kita kembali kea lam abadi atau surga. Dengan demikian, benarlah kata-kata manusia harus dapat mati dalam hidup, supaya dapat mengenal (mengerti) rupa dan rasanya. Maksudnya yang dimatikan adalah alam pikirannya, sedang rasanya tetap hidup. Maka, sewaktu racut, manusia dapat mengetahui rohnya sendiri naik ke alam abadi (akhirat atau surga) menghadap Hyang Mahakuasa. Dan rohnya dapat mengetahui jasmani yang ditinggalkan sementara terbaring di bawah.

Racut dilakukan setelah sujud wajib, kemudian sujudnya ditambah lagi dengan satu bungkukan, yang diakhiri dengan ucapan di dalam batin. Dan mengingat racut adalah perbuatan yang sulit, maka diperlukan latihan yang penuh kesabaran, ketelitian, kesungguhan, serta ketekunan. Hasil dari melakukan racut dapat memungkinkan seseorang dapat memiliki kewaskita-an (kewaspadaan) yang tinggi. Konsep Sujud dan Racut itu merupakan jalan Mistik dari ajaran ini.

Kesimpulan

Adalah suatu keanehan menurut Rahnip M.B.A. Bahwa ajaran ini memiliki berbagai macam perpaduan porsi yang beragam, mulai dari Agama, ajaran-ajaran, kebudayaan/tradisi serta filsafat yang telah ada sebelum munculnya ajaran ini. Bahkan ada yang tidak mungkin diterima oleh khalayak manusia, misalnya mengenai ajaran Racut.

Adapun menurut para pendirinya, pokok dari ajaran ini ada, karena desakan keadaan, yang mana keadaan pada waktu menuntut manusia untuk mengolah rasa atau juga disebut Nilai-nilai Spiritual. Dengan begitu manusia dapat mencapai kebahagiaannya dalam hidup di dunia maupun di akhirat. Karena mampu mengolah keadaan jasmani dan rohaninya.

Pada akhirnya toh ajaran ini dapat tersebar dengan begitu luasnya, betapa. Tidak mungkin hal ini dapat terjadi kalau bukan karena prestasi atau kebenaran daripada ajaran sapta darma ini. Itupun bagi yang percaya, bagi yang tidak percaya, cukup dengan mengetahui ajaran ini dan tidak perlu merusaknya. Kita pun sudah tahu bahwa ajaran yang tidak benar akan hilang dengan sendirinya, cepat atau lambat.

Daftar Pustaka

Rahnip, M.B.A. Aliran Kepercayaan dan Kebatinan dalam Sorotan (Indonesia: Pustaka Progresif, 1997).

Suwarno imam S, Dr. Konsep Tuhan, Manusia, Mistik dalam berbagai kebatinan Jawa (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2005).

1 komentar: